Eskalasi konflik Iran menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi Asia. Sekitar 80% perdagangan minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia, sehingga gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global, meningkatkan inflasi, serta mengganggu rantai pasok manufaktur dan perdagangan dengan Timur Tengah.
Dengan asumsi harga minyak mencapai USD105 per barel dan kurs Rp17.000 per dolar AS, defisit APBN 2026 diperkirakan menembus 3,55% dari PDB, melampaui batas legal. Pelemahan rupiah juga berpotensi memperbesar tekanan fiskal. Dari sisi perdagangan, Indonesia berisiko kehilangan ekspor sebesar USD606,8 juta (Rp10,3 triliun) ke kawasan Teluk Persia jika konflik berlangsung hingga enam pekan, ditambah dampak tidak langsung dari perlambatan ekonomi mitra dagang utama seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Di sisi kebijakan, pemerintah perlu menjaga defisit anggaran agar tetap di bawah 3% PDB, antara lain dengan meninjau kembali alokasi anggaran program MBG dan Kopdes Merah Putih yang mencapai Rp418 triliun. Selain itu, pemerintah dapat memanfaatkan Agreement on Reciprocal Tariffs (ART) untuk memperoleh harga minyak mentah yang lebih kompetitif dari AS, sekaligus membandingkan efisiensi pasokan dari AS, Afrika, dan Rusia guna menjaga ketahanan energi domestik.
Bagaimana analisis lengkap serta rekomendasi kebijakan jangka pendek dan panjang dari CORE Indonesia untuk meredam dampak konflik terhadap ekonomi Indonesia?
Baca selengkapnya COREinsight edisi 13 Maret 2026, “AWAS Efek Domino Konflik Timur Tengah” dengan klik lampiran di bawah ini









