Core Indonesia

10Feb

Risiko Fatal Instabilitas Pasar Modal

Stabilitas pasar modal Indonesia kembali menjadi sorotan pada awal 2026 setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyampaikan peringatan keras mengenai kualitas tata kelola pasar domestik. Bagi investor global, pernyataan MSCI bukan sekadar catatan teknis, melainkan sinyal apakah sebuah pasar masih layak menjadi tujuan alokasi dana jangka panjang. MSCI menyoroti problem transparansi, integritas transaksi, dan struktur kepemilikan. Kondisi ini tentu bukan hal yang baik terhadap kredibilitas ekosistem pasar modal Indonesia secara keseluruhan.

Selain itu, tekanan pasar juga diperparah oleh sentimen pengelolaan makroekonomi. Hal ini terlihat dari koreksi Moody’s pada outlook surat utang yang diturunkan ke level negatif terutama dari ketidakpastian pengelolaan kebijakan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah. Moody’s menilai bahwa ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola dapat menggerus kredibilitas Indonesia, yang tercermin dari respons negatif pasar terhadap berbagai dinamika kelembagaan dan kebijakan.

Instabilitas pasar modal tidak bisa diperlakukan sebagai isu sektoral semata.

Pasar modal merupakan infrastruktur pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha. Ketika institusi penopang pendanaan ini terguncang, perusahaan cenderung menunda ekspansi dan penghimpunan dana, sehingga tekanan pasar keuangan berpotensi merambat ke perekonomian riil.

Dengan struktur pasar Indonesia yang masih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu, gejolak pasar modal juga berisiko semakin mempersempit akses pembiayaan bagi sektor produktif yang memiliki multiplier effect besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Apa saja rekomendasi CORE Indonesia?

Baca selengkapnya COREinsight edisi 10 Februari 2026, “Risiko Fatal Instabilitas Pasar Modal” dengan klik lampiran di bawah ini

26Nov

Brief Report CORE Economic Outlook 2026 “Resiliensi Terjaga, Akselerasi Tertahan”

CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 4,9% hingga 5,1%. Proyeksi ini memberikan gambaran bahwa perekonomian Indonesia pada 2026 tidak akan mengalami akselerasi pertumbuhan meski relatif resilien.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyebutkan belum adanya sinyal optimistis pada 2026. Kondisinya bahkan mungkin lebih buruk dibandingkan 2025. “Net ekspor akan turun, tetapi akan ada kenaikan marginal di spending pemerintah, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Tapi, karena kenaikannya marginal, ini kemungkinan tidak bisa mengompensasi menyempitnya net ekspor,” jelasnya.

Kondisi itu tampak dari indikator utama, seperti konsumsi rumah tangga dan investasi diperkirakan tidak lebih baik dari tahun 2025. Dari sisi konsumsi, misalnya, pertumbuhan kredit konsumsi terus melemah sepanjang Februari hingga Oktober 2025. Pada Februari pertumbuhan kredit konsumsi tumbuh 10,2% sementara pada Oktober melemah di level 6,9% secara tahunan. Beberapa indikator konsumsi kelas menengah juga belum menunjukkan pemulihan, seperti terkontraksinya penjualan rumah sedang dan besar, masing-masing -12% dan -23% pada triwulan III 2025.

Dari sisi investasi, masuknya modal asing diperkirakan merosot pada 2025, dan berpotensi berlanjut pada 2026 jika tidak ada perubahan kebijakan yang mampu memulihkan kepercayaan investor. Sepanjang triwulan I hingga III 2025, pertumbuhan investasi asing merosot -1%, sementara investasi domestik meningkat 30%.

Meski demikian, Indonesia tetap bisa tumbuh jika pemerintah mendorong industrialisasi yang inklusif sebagai basis untukmenciptakan lompatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini sekaligus menjadi solusi atas kondisi Indonesia yang sudah terlalu lama terjebak dalam stagnasi pertumbuhan di level 5%. “PR kita adalah, bahwa Indonesia tumbuh terlalu rendah dalam jangka lama, dan bahkan pertumbuhannya itu cenderung melambat,” kata ekonom senior Hendri Saparini.

Ia menambahkan, kalau berkaca dari negara lain, lompatan ekonomi itu terjadi jika perekonomian didominasi oleh aktivitas di industri manufaktur. Maka itu, ia menekankan bahwa industrialisasi adalah kunci jika Indonesia ingin mencapai lompatan pertumbuhan.

“Kalau kita lihat lesson-learned dari banyak negara, ternyata negara yang bisa melakukan lompatan ekonomi seperti Korea Selatan mereka bisa menjaga share industri manufaktur terhadap PDB di level yang sangat tinggi,” ujarnya.

Senada itu, Burhanuddin Muhtadi, Direktur Indikator Politik Indonesia, mengatakan bahwa untuk melakukan lompatan ekonomi, kunci utamanya adalah stabilitas politik dan keamanan. “Idealnya pemerintah Indonesia mengikuti pendekatan diplomasi yang seimbang. Menjaga hubungan baik untuk semua kekuatan besar, tanpa terjebak dalam blok tertentu,” pungkasnya.

Baca selengkapnya BRIEF REPORT CORE Economic Outlook 2026, 26 November 2025, dengan klik lampiran di bawah